Wednesday, 3 December 2014

ASFIKSIA BAYI BARU LAHIR



1. Latar Belakang
Asfiksi neonatonum adalah suatu keaadan bayi baru lahir yang gagal bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir. (Hutchison, 1967). Asfiksi disebabkan karena adanya gangguan perubahan gas dan pengangkutan O2 dari ibu ke janin, hal ini bisa dari faktor ibu (missal: hipoksia ibu), placenta (misal: solusio placenta dan placenta previa ), fetus (misal: tali pusat menumbung, lilitan tali pusat) dan neonatusnya sendiri (misal: pemakaian analgesik berlebih, kelinan konginetal)

2.Definisi
Asfiksi neonatonum adalah suatu keaadan bayi baru lahir yang gagal bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir. (Hutchison, 1967). 3.EtiologiAdanya gangguan perubahan gas dan pengangkutan O2 dari ibu ke janin. 4.Penyebab Kegagalan Pernafasan
  • Faktor Ibu
Hipoksia ibu    : terjadi karena hipoventilasi akibat pemberian obat analgenika / anestesia dalam gangguan aliran darah uterus ditemukan pada keadaan gangguan kontraksi, misalnya hepertoni, hipotani atau tetani, hipotensi mendadak karena pendarahan, hipertensi pada penyakit eklamsia.
  • Faktor Plasenta
Misalnya pada solusia plasenta, perdarahan plasenta.
  • Faktor Fetus
Gangguan aliran darah ditemukan pada keadaan talipusat menumbung, tali pusat melilit leher,kompresi tali pusat antara janin dan jalan lahir.
  • Faktor Neonatus
Depresi pusat pernafasan pada bayi baru lahir terjadi karena beberapa hal :1.      Pemakaian obat anestesia /  anelgenetika yang berlebihan.2.      Trauma pada persalinan misalnya pendarahan intrakronial3.      Kelainan kogenital pada bayi.Misalnya :     - Hernia diaframa                     - Atresia/stenosis saluran pernafasan                     - Hipoplasia paru

Perubahan HomeostatisAsfesia bayi biasanya disertai :1.      Asidosis respiratorik2.      Asiadosis metabocik3.      Gangguan kardiovaskuler 
 5.Pemeriksaan DiagnosaAsfiksia biasanya merupakan kelanjutan anoxia / hipoxia janin diagnosa anoxia / hipoxia janin akibat dilakukan selama persalinan dengan beberapa cara antara lain. 
  •  Menilai DJJ Dengan Cara
Menghitung frekwensi dengan jantung atau mengawasi terus menerus EKG, bila janin dalam keadaan anoksia / hipoksia, maka frekwensi jantungnya mulai meningkat sampai 180x/mnt.
  • Memeriksa Air Ketuban
Adanya meconium dalam air ketuban pada bayi dengan letak kepala merupakan tanda-tanda adanya depresi pada janin.


  • Pemeriksaan PH darah janin
Contoh dari kulit kepala janin dapat diambil apabila mulut rahim telah membuka. Apakah Ph darah < 7,2 di anggap bayi dalam keadaan bahaya. 
6.PENGKAJIAN1.      Identitas-          Nama ibu-          Alamat-          Umur 2.      Riwayat kehamilan ibu-          Apakah pernah menderita kel. Kehamilan-          Aklamsia, hipotensia 3.      Riwayat persalinan ibu-                                  Apakah persalinan normal-                                  SC-                                  Forcep dll 7. PEMERIKSAAN FISIK1.      Keadaan umum bayiBayi kelihatan lemah, merintih, reflek gerak lambat.2.      Sistem kardiovaskuler-    Nafas sesak-    Frekwensi lebih dari 60x/menit-    Pernafasan cuping hidung-    Pernafasan dada dan perut3.      Sisrtem pencernaan-    Mulut     : reflek menghisap lemak-    Perut       : tidak kembung, tymponi pada auskultasi-    Anus       : normal 4.      Intergumen-    Lemak subcutan sedikit-    Extremitas / akrat dingin-    Bayi tampak pucat-    Rambut lanugo ada5.      Muskuluskeletal-    Tonus otot axt flexi-    Reflek gerakan sedikit 8. ANALISA DATA
Kelompok data
Kemungkinan penyebab
Masalah
-     Bayi sianosis
-     Reflek gerakan dedikit
-     Terlihat penggunaan otot
-     Bantu pernafasan
-     Dispnoe

-     Suhu tidak tetap
-     Sianosis
-     Membran mukasa pucat

-     Bayi puasa
-     Turgor jelek
-     Jaringan subcutan lembek
-     Reflek hisap lemak

-    Sesak
-    Jaringan subcutan lembek

-    Jaringan lembek
-    Bayi imobilisasi
Immaturitas otot
pernafasan





Imatur sistem
thermoregulasi


Puasa
Intake kurang




Output berkurang
Akibat pembesaran pada nafas

Imobilitas

Pola nafas
Tidak efektif





Tidak efektifnya thermoregulasi/hipotemi


Nutrisi kurang





Defisit vol. Cairan



Resti gangguan integritas kulit
  9. MASALAH KEPERAWATAN1.      Pola nafas tidak efektif b/d imatur sistem pernafasan.2.      Hipotermi b/d imatur sistem termoregulasi.3.      Gangguan pemeriksaan kebutuhan nutrisi b/d intake yang kurang.4.      Defisit volume cairan b/d pengeluaran yang berlebihan akibat dari peningkatan pola nafas.5.      Resiko tinggi gangguan integritas kulit b/d imobilitas.6.      Perubahan proses keluarga b/d situasi krisis bayi yang sakit.  
Diagnosa
Tujuan
Intervensi
Rasional
1.  Pola nafas tidak efektif
b/d imaturitas sistem pernafasan.







2.  Hipertensi b/a imaturitas thermogulasi

























3.  Defisit vol. Cairan b/d pengeluaran cairan yang berlebih akibat peningkatan pola nafas.












1.   Jalan nafas menjadi efektif dengan kriteria :
-    RR > 60x.menit
-    Tidak ada penggunaan alat pernafasan.
-    Whashing
-    AGD dalam batas (N) :
-    Ph     = 7,35-7,45
-    PCO2 = 35-45 mmhg
-    PO2     = 50-80 mmgh


1.   Cairan seimbang dengan  kriteria :
-    Membran mukasa lembab
-    Turgor kulit baik
-    Pengisian kapiler cepat
-    TTV stabil :
-    RR : 30-60x/menit
-    N   : 110-1670x/menit
-    S   : 36-36C



















1.     Cairan seimbang dengan kriteria :
-    Membran mukosa lembab
-    Turgor kulit baik
-    Pengisian kapiler cepat
-    TTV stabil :
-    RR : 30 – 60 x/mnt
-    N : 110 – 160 x / mnt
-    S : 36 – 367o C








1.    Bersihkan hidung dan mulut dari mukus.


2.    Berikan O2 dengan nasacanul 2 tts/menit


3.    Obstetri TTV (RR & N)



1.    Kontrol suhu lingkungan.








2.    lakukan prosedur di area yang hangat atau inkubator


3.    Observasi bayi terhadap stress dingin seperti takipnea, apnea, perubahan warna dan hypoglocemia
4.    Berikan cadangan kalori untuk memperbaiki keadaan hipoglekemia dan menstabilkan AGD
5.    Periksa suhu secara bertahap sampai stabil.

6.    Berikan pakaian untuk melindungi bayi dari kehilangan panas.  


1.    Kaji Turgor kulit, kelembaban, membran mukosa.


2.    Pantau masukan, pengaluaran, catat warna dan karakter uruine

3.    Hitung keseimbangan cairan.


4.    Waspadai kehilangan cairan yang tak tampak.

5.    Ukur berat badan secara periodik.
6.    berikan cairan tambahan perinfus sesuai keperluan.

1.     Mukus yang banyak akan menghalangi jalan nafas, dengan dibersihkan akan memperlancar pernafasan.
2.     Pemberian O2 akan manambah oksinasi dalam jaringan, O2 terlalu banyak akan masuk paru
3.     RR dan nadi yang menaikan menandakan jalan nafas tidak efektif.


1.     Suhu lingkungan akan mempengaruhi suhu tubuh bayi, suhu tubuh bayi, suhu tubuh yang rendah akan mengakibatkan metabolisme jaringan meningkatkan dan memperberat asidosis metabolik sehingga kebutuhan O2 meningkat.
2.     Pada area yang hangat bayi tidak akan kehilangan panas melalui evaporasi, konveksi konduksi dan radiasi.
3.     Observasi yang ketat akan menghindarkan bayi jatuh ke dalam suatu traumadis (cold enjury)
4.     Pemberian cadangan kalori bermanfaat untuk metabolisme.


5.     mengatahui secara dini tanda “hipoterni” seperti suhu : 35oC, warna kulit tampak biru.
6.     kehilangan panas badan / suhu tubuh yang mengakibatkan metabolisme jaringan meningkat dan per berat.

1.     Turgor kulit menurun,membran mukosa tampak kering menandakan bayi dalam keadaan dehidrasi.
2.     Supaya tahu uotputnya seimbang dan dapat mengetahui secara dini apabila terjadi sesuatu.
3.     Cairan yang seimbang menandakan tidak adanya defisit cairan.
4.     kehilangan cairan yang tak tampak : seperti nafas sulit, dideteksi maka perlu waspada
5.     Mengetahui keberhasilan intevensi.
6.     Pemberian cairan perinfus mengatahui keadaan kekurangan cairan
 
Diagnosa
Tujuan
Intervensi
Rasional
4.   Resiko tinggi gangguan nutrisi b/d ketiidakmampuan mencerna makanan / imaturitas saluran cerna.




































5.  Resiko tinggi gangguan integritas kulit sehubungan dengan mobilisasi
1.      Nutrisi terpenuhi dengan kriteria :
Berat badan naik / dipertahankan.



































Integritas kulit utuh dengan kriteria :
-    Tidak terjadi iritasi pada kulit
-    Turgor kulit normal
1.    Early feeding untuk mencegah penurunan BB > 10%, hipoglikemi, hiperbilirubinemia
·      Pedoman : puasa 2 jam dextrosa 5%.
Frekwensi minum.
a.  BB 1250 gram x/24 jam
b.  BB 1250-2000 gram =12x/24jam.
c.  BB >2000gram 8x/24 jam
d.  Jumlah cairan :
·   Jumlah cairan :
a.  hari I   60 cc/kg BB/hr.
b.  hari II  90cc/kg BB/hr
c.  hari III 120cc/kg BB/hr
d.  hari IV 150cc/kg BB/hr
e.  hari seterusnya 180-200cc/kg BB/hr
·   Jumlah kalori
110-140 ka /kg bb/hr.
·   Jumlah protein
3-69 gram/kg BB/hr
·   Jumlah karbohidrat
10-15 gram/kg BB/hr
·   Jumlah lemak
5-7 gram/kg BB/hr
·   Macam nutrisi
Asi, ASS/ air susu sapi.
(cak residu lab) parenterae
2.   Cegah pnemonia aspirasi













1.     Beri selimut untuk mencegah iritasi.


2.     Cuci tangan sebelum kontak dengan bayi.



3.     Ganti alat inkubator setiap minggu.



4.     Rubah posisi bayi setiap 2 jam.





























Pneumonia aspirasi dapat dicegah denan cara :
Mencegah pneumonia aspirasi akan mengurangi resiko infeksi lanjut.
-   Saat minum posisi kepadla 30o.
-   Bersihkan sisa-sisa susu dimulut.
-   Minum sedikit penambah susu tidak melebihi 30 mnt / hari.
-   Sendawakan setelah minum.
1. Selimut terutama yang tidak keras mengurangi gesekan langsung.
2. Dengan cuci tangan, tangan terhindar dari kotoran sehingga tidak akan mengiritasi kulit bayi.
3. Dengan mengganti alat-alat inkubator seperti lampu akan mempertahankan suhu.
4. Aliran darah disekitar jaringan yang terhindar akan kembali lancar, bila tidak dirubah posisi bisa terjadi dicubitus.
Diagnosa
Tujuan
Intervensi
Rasional

6. Perubahan proses keluarga b/d situasi krisis bayi yang sakit.




Perubahan proses keluarga positif denan kriteria :
1.     Ada hubungan positif orang tua dan bayi.

2.Orang tua mempunyai koping yang efektif.








1.    Jelaskan pada ibu tanda asfiks.



2.    Jelaskan pada ibu tentang pencegahan asfiksia.







3.    Anjurkan ibu untuk mengkaji penyebab asfiksia misalnya : sumbatan
1. Tanda-tanda asfiksia (seperti bayi kesulitan bernafas, merintih, warna kulit kebiruan) adalah tanda-tanda afiksia yang harus dikenali si ibu.
2. Dengan mencegah asfiksa bayi terhindar dari kejadian yang lebih fatal.
Pencegahan :
-  Memberikan posisi
   yang nyaman pada bayi.
-   Perhatikan posisi bayi pada waktu menyusi agar hidung dan mulut tidak tertutup.
3. Segera mendapat pertolobngan apabila terjadi asfiksia.

 DAFTAR PUSTAKA
  1. Manuaba, IBG. 1998. Ilmu Kebidanan dan Kandungan. Jakarta: EGC.
  1. Ilmu Kesehatan Anak Jilid I. 1985. Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI.
  1. Rustam, Mochtar. 1998. Sinopsis Obstetri Jilid I. Jakarta: EGC.
  1. Prawirohardjo, Sarwono. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
  1. Prawirohardjo, Sarwono. 2002. Acuan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.

KENAPA WANITA USIA SUBUR DAN IBU HAMIL PENTING UNTUK DI IMUNISASI TT


KENAPA WANITA USIA SUBUR DAN IBU HAMIL PENTING UNTUK DI IMUNISASI TT??
Angka kematian bayi (AKB) di Indonesia hingga saat ini masih relatif tinggi dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Meskipun menurut hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga selama dua dekade terakhir bayi baru lahir yang meninggal akibat tetanus neonatorum (TN) menunjukkan penurunan yang sangat berarti. Hal ini seiring dengan upaya jajaran kesehatan yang selalu memberikan imunisasi kepada ibu hamil dan Wanita Usia Subur (WUS) yang dibarengi pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan.
Hal itu dikemukakan Sekertaris Jenderal Departemen Kesehatan Dr Dadi S Argadireja di sela-sela penyerahan bantuan vaksin tetanus dan peralatan imunisasi dari pemerintah Jepang kepada Indonesia senilai 140 juta Yen atau Rp 11,2 miliar yang diserahkan Wakil Duta besar Jepang untuk Indonesia Mr Hideki Domichi di Jakarta. 
Keselamatan ibu dan bayi pada proses persalinan sampai dengan pasca persalinan sangat perlu mendapat perhatian. Salah satu masalah yang dihadapi pada tahap tersebut adalah penyakit tetanus pada bayi (Neonatal tetanus). Neonatal tetanus umumnya terjadi pada bayi baru lahir. Neonatal tetanus menyerang bayi baru lahir karena dilahirkan di tempat kotor dan tidak steril, terutama jika tali pusar terinfeksi. Neonatal tetanus dapat menyebabkan kematian bayi dan banyak terjadi di negara berkembang. Di negara-negara maju, dimana kebersihan dan teknik melahirkan sudah maju, tingkat kematian akibat neonatal tetanus dapat ditekan. Antibodi dari ibu kepada bayinya juga mencegah neonatal tetanus.Oleh karena itu salah satu upaya untuk mencegah dengan imunisasi Tetanus Toxoid (TT) bagi wanita dimulai dari masa anak-anak sampai dengan pada masa kehamilan.
A.    Apa itu Tetanus ?
Tetanus adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Clostridium tetani yang masuk melalui luka terbuka dan menghasilkan racun yang kemudian menyerang sistem saraf pusat. Bakteri ini secara umum terdapat ditanah,jadi ia bisa ditemukan pada debu, pupuk, kotoran hewan,dan sampah. Tetanus ini menyerang siapa saja,anak – anak juga orang dewasa. Bahkan bayi baru lahir sekalipun, yang bisa berakibat fatal. Penyakit yang menterang bayi itu biasa disebut Tetanus neonatorum. Tetanus biasanya menyerang bayi -bayi yang lahir ditempat yang tidak bersih dan tidak menggunakan alat – alat persalianan yang steril. atau juga riwayat dari ibu hamil yang mungkin terluka sebelum melahirkan yang lukanya mengandung bakteri tetanus tersebut.
Penyakit tetanus sendiri adalah penyakit yang mempengaruhi sistem urat saraf dan otot oleh karena itu penyakit ini berbahaya. Gejala tetanus diawali dengan kejang otot rahang (trismus atau kejang mulut), pembengkakan, rasa sakit dan kejang di otot leher, bahu atau punggung. Kejang-kejang segera merambat ke otot perut, lengan atas dan paha.
Periode inkubasi tetanus terjadi dalam waktu 3-14 hari dengan gejala mulai timbul di hari ketujuh. Gejala neonatal tetanus mulai pada dua minggu pertama kehidupan seorang bayi. Walaupun tetanus berbahaya, jika cepat didiagnosa dan mendapat perawatan benar, penderita tetanus dapat disembuhkan. Penyembuhan tetanus umumnya terjadi selama 4-6 minggu.
B.     Apa itu Imunisasi TT
Vaksin TT adalah vaksin yang mengandung toksoid Tetanus yang telah dimurnikan yang teradsorbsi ke dalam 3 mg/ml aluminium fosfat. Thimerosal 0,1 mg/ml digunakan sebagai pengawet.  Satu dosis 0,5 ml vaksin mengandung potensi sedikitnya 40 IU.
C.     Manfaat Imunisasi TT
-          Melindungi bayinya yang baru lahir dari tetanus neonatorum (BKKBN, 2005; Chin, 2000). Tetanus neonatorum adalah penyakit tetanus yang terjadi pada neonatus (bayi berusia kurang 1 bulan) yang disebabkan oleh clostridium tetani, yaitu kuman yang mengeluarkan toksin (racun) dan menyerang sistim saraf pusat (Saifuddin dkk, 2001).
-          Melindungi ibu terhadap kemungkinan tetanus apabila terluka (Depkes RI, 2000)
Kedua manfaat tersebut adalah cara untuk mencapai salah satu tujuan dari program imunisasi secara nasional yaitu eliminasi tetanus maternal dan tetanus neonatorum (Depkes, 2004)
D.    Bagaimana agar terhindar dari Tetanus pada Ibu Hamil
Salah satu pencegahan terkena penyakit ini,bumil haruslah menjaga kebersihan dan melahirkan ditolong oleh tenaga kesehatan yang profesional. dan yang penting juga Bumil harus imunisasi .Perlu ibu ketahui imunisasi TT adalah proses membangun kekebalan sebagai pencegahan terahadap infeksi tetanus.

E.     Dosis pemberian imunisasi TT
1.      Pemberian imunisasi TT pada Wanita Usia Subur
Imunisasi TT untuk ibu hamil diberikan 2 kali (BKKBN, 2005; Saifuddin dkk, 2001), dengan dosis 0,5 cc di injeksikan intramuskuler/subkutan dalam (Depkes RI, 2000). Imunisasi TT sebaiknya diberikan sebelum kehamilan 8 bulan untuk mendapatkan imunisasi TT lengkap (BKKBN, 2005). TT1 dapat diberikan sejak di ketahui postif hamil dimana biasanya di berikan pada kunjungan pertama ibu hamil ke sarana kesehatan (Depkes RI, 2000)

2.      Pemberian imunisasi TT pada Wanita Usia Subur
Jarak pemberian (interval) imunisasi TT1 dengan TT2 adalah minimal 4 minggu (Saifuddin dkk, 2001; Depkes RI, 2000).
Imunisasi TT untuk pencegahan terhadap tetanus / tetanus neonatal terdiri dari 2 dosis primer 0,5 ml yang diberikan secara intramuskuler atau subkutan yang dalam  dengan  interval  4  minggu  yang  dilanjutkan  dengan  dosis  ke  tiga pada 6 - 12 bulan berikutnya. Untuk mempertahankan kekebalan terhadap tetanus pada wanita usia subur, maka dianjurkan diberikan 5 dosis TT. Dosis ke empat  diberikan  1  tahun  setelah  dosis  ke  tiga,  dan  dosis  ke  lima diberikan 1 tahun setelah dosis ke empat.

T1
T2®  4 minggu setelah TT ke 1  (berlaku 3 thn)
T3® 6 bulan setelah TT ke 2 (berlaku 5 thn)

T4® 1 tahun setelah TT ke 3 (berlaku 10 thn)
T5®1 tahun setelah TT ke 4 (berlaku 25 thn)

F.     Efek samping imunisasi TT
Biasanya hanya gejala-gejala ringan saja seperti nyeri, kemerahan dan pembengkakan pada tempat suntikan (Depkes RI, 2000). TT adalah antigen yang sangat aman dan juga aman untuk wanita hamil. Tidak ada bahaya bagi janin apabila ibu hamil mendapatkan imunisasi TT (Saifuddin dkk, 2001).
Efek samping tersebut berlangsung 1-2 hari, ini akan sembuh sendiri dan tidak perlukan tindakan/pengobatan (Depkes RI, 2000).
Kontraindikasi
Gejala-gejala berat karena dosis pertama TT. Bagi Individu yang terinfeksi oleh virus human immunodeficiency (HIV) baik yang tanpa gejala maupun dengan gejala, imunisasi TT harus berdasarkan standar jadual tertentu.

PEMBERIAN VIT K1 (Phytomenadion)


PEMBERIAN VIT K1 (Phytomenadion)
Apa itu Vit K?
Vitamin K adalah vitamin yang larut dalam lemak, merupakan suatu naftokuinon ( senyawa yang memberi pigmen warna ) yang berperan dalam modifikasi dan aktivasi beberapa protein yang berperan dalam pembekuan darah, seperti faktor II,VII,IX,X dan antikoagulan protein C dan S, serta beberapa protein lain seperti protein Z dan M yang belum banyak diketahui peranannya dalam pembekuan darah.
Ada tiga bentuk vitamin K yang diketahui yaitu:
1.    Vitamin K1 (phytomenadione), terdapat pada sayuran hijau.
Sediaan yang ada saat ini adalah cremophor dan vitamin K mixed micelles (KMM).
2.    Vitamin K2 (menaquinone) disintesis oleh flora usus normal seperti
Bacteriodes fragilis dan beberapa strain E. coli.
3.    Vitamin K3 (menadione) yang sering dipakai sekarang merupakan vitamin K sintetik tetapi jarang diberikan lagi pada neonatus karena dilaporkan dapat menyebabkan anemia hemolitik.

Kenapa bayi baru lahir perlu segera di suntik vit k?
Bayi baru lahir cenderung memiliki kadar vitamin K dan cadangan vitamin
K dalam hati yang relatif lebih rendah dibanding bayi yang lebih besar. Secara fisiologis kadar faktor koagulasi yang tergantung vitamin K dalam tali pusat sekitar 50% dan akan menurun dengan cepat mencapai titik terendah dalam 48-72 jam setelah kelahiran. Kemudian kadar faktor ini akan bertambah secara perlahan selama beberapa minggu tetap berada dibawah kadar orang dewasa.
Peningkatan ini disebabkan oleh absorpsi vitamin K dari makanan , sementara itu asupan vitamin K dari ASI belum mencukupi (0,5 ng/L), sedangkan vitamin K dari makanan tambahan dan sayuran belum dimulai. Hal ini menyebabkan bayi baru lahir cenderung mengalami defisiensi vitamin K sehingga berisiko tinggi untuk mengalami PDVK .
Kenapa bayi baru lahir mengalami defisiensi vit K?
Bayi baru lahir mengalami defisiensi vit K karena berbagai alasan, antara lain karena simpanan vitamin K yang rendah pada waktu lahir, sedikitnya transfer vitamin K melalui plasenta, rendahnya kadar vitamin K pada ASI dan sterilitas saluran cerna.
Apa akibat jika bayi mengalami defisiensi vit K ?
PDVK mengakibatkan terjadinya perdarahan otak dengan angka kematian 10 – 50% yang umumnya terjadi pada bayi dalam rentang umur 2 minggu sampai 6 bulan, dengan akibat angka kecacatan 30 – 50%. Secara nasional belum ada data PDVK, sedangkan data dari bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI RSCM (tahun 1990-2000) menunjukkan terdapatnya 21 kasus, diantaranya 17 (81%) mengalami komplikasi perdarahan intrakranial (catatan medik IKA RSCM 2000).
Selain itu, salah satu akibat defisiensi vitamin K terlihat pada kejadian ikutan pasca imunisasi  (KIPI) berupa perdarahan yang timbul sekitar 2 jam sampai 8 hari paska imunisasi. Dari data Komnas KIPI jumlah kasus perdarahan paska imunisasi yang diduga karena defisiensi vitamin K selama tahun 2003 sampai 2006 sebanyak 42 kasus, dimana 27 kasus (65%) diantaranya meninggal.
Berkaitan dengan kasus KIPI yang diduga kuat karena defisiensi vitamin K, dimana petugas kesehatan di lapangan tidak mengetahui bahwa berbagai kasus KIPI sebenarnya dapat dicegah dengan pemberian profilaksis vitamin K1, maka perlu suatu pedoman teknis tentang pemberian profilaksis vitamin K1.

Kapan vit K di berikan ?
pemberian profilaksis injeksi vitamin K1 pada bayi baru lahir sedini mungkin yaitu 1-2 jam setelah lahir . Vitamin K1 injeksi diberikan sebelum pemberian imunisasi
hepatitis B0 (uniject), dengan selang waktu 1-2 jam.

“semua bayi baru lahir harus mendapat profilaksis vitamin K,
regimen vitamin K yang digunakan adalah vitamin K1, dan cara
pemberian secara intramuskular (Rekomendasi A).”

Friday, 5 July 2013

Pertumbuhan Janin

Pertumbuhan Janin


Proses terjadinya perubahan pada tubuh janin selama dalam kandungan seperti ukuran dan berat janin Perkembangan janin Dimulai dari awal bulan ke tiga hingga akhir kehidupan dalam rahim yang ditandai dengan penyempurnaan organ dan pertumbuhan tubuh yang cepat
Berikut tahap pertumbuhan dan perkembangan janin :
Minggu ke 4
Mulai dibentuk tulang belakang, otak syaraf tulang belakang, jantung saluran pencernaan, mata, hidung, dan telinga. Janin berukuran 7,5 – 10 mm.
Minggu ke 8
Jari jemari mulai dibentuk, kepala menekur ke dada. Jantung mulai memompa darah. Perut, muka dan bagian utama otak dapat dilihat. Janin berukuran 2.5 cm dan berat kira-kira 5 gram.
Minggu ke 12
Daun telinga lebih jelas, kelopak mata melekat, leher mulai dibentuk. Denut jantung dapat terlihat dengan USG, jenis kelamin dapat diketahui. Ginjal sudah memproduksi urine. Urine dibuang kedalan air ketuban, banyaknya sekitar 44 ml dan produksi rata -rata 0.05 – 0.10 ml per menit. Janin berukuran 9cm dan berat sekitar 15 gram.
Minggu ke 20
Kulit lebih tebal, mulai dibentuk alis, bulu mata, rambut dan rambut halus dikulit. Janin mengembangkan jadwal teratur untuk tidur, menelan dan menendang. Janin berukuran 25cm dengan berat 280 gram.
Minggu ke 24
Kerangka janin berkembang cepat, perkembangan pernafasan dimulai. Janin berukuran 30-32 cm dan berat 600 gram.
Minggu ke 28
Janin dapat mengatur suhu dan dapat bernafas tetapi air ketuban tidak masuk ke dalam paru-paru. Janin berukuran 35cm dan beratnya 1000gram
Minggu ke 32
Kulit merah dan keriput, simpanan lemak coklat, berkembang di bawah kulit. Janin berukuran 40-43 cm dan berat 1600 gram
Minggu ke 36
Muka berseri, tidak keriput, janin dapat bergerak dan berputar banyak. janin berukuran 46 cm dan berat 2500 gram
Minggu ke 38
Kulit licin dan janin siap lahir. janin berukuran 50-55 cm dan berat 3000 gram.
Sumber Mochtar, Rustam 1998, Sinopsis Obstetri, jakarta : EGC Wiknjosastro, Hanifa 2005, Ilmu Kandungan, Jakarta : Yayasan Pustaka Sarwono PrawiroharjoPertumbuhan Janin
Proses terjadinya perubahan pada tubuh janin selama dalam kandungan seperti ukuran dan berat janin Perkembangan janin Dimulai dari awal bulan ke tiga hingga akhir kehidupan dalam rahim yang ditandai dengan penyempurnaan organ dan pertumbuhan tubuh yang cepat
Berikut tahap pertumbuhan dan perkembangan janin :
Minggu ke 4
Mulai dibentuk tulang belakang, otak syaraf tulang belakang, jantung saluran pencernaan, mata, hidung, dan telinga. Janin berukuran 7,5 – 10 mm.
Minggu ke 8
Jari jemari mulai dibentuk, kepala menekur ke dada. Jantung mulai memompa darah. Perut, muka dan bagian utama otak dapat dilihat. Janin berukuran 2.5 cm dan berat kira-kira 5 gram.
Minggu ke 12
Daun telinga lebih jelas, kelopak mata melekat, leher mulai dibentuk. Denut jantung dapat terlihat dengan USG, jenis kelamin dapat diketahui. Ginjal sudah memproduksi urine. Urine dibuang kedalan air ketuban, banyaknya sekitar 44 ml dan produksi rata -rata 0.05 – 0.10 ml per menit. Janin berukuran 9cm dan berat sekitar 15 gram.
Minggu ke 20
Kulit lebih tebal, mulai dibentuk alis, bulu mata, rambut dan rambut halus dikulit. Janin mengembangkan jadwal teratur untuk tidur, menelan dan menendang. Janin berukuran 25cm dengan berat 280 gram.
Minggu ke 24
Kerangka janin berkembang cepat, perkembangan pernafasan dimulai. Janin berukuran 30-32 cm dan berat 600 gram.
Minggu ke 28
Janin dapat mengatur suhu dan dapat bernafas tetapi air ketuban tidak masuk ke dalam paru-paru. Janin berukuran 35cm dan beratnya 1000gram
Minggu ke 32
Kulit merah dan keriput, simpanan lemak coklat, berkembang di bawah kulit. Janin berukuran 40-43 cm dan berat 1600 gram
Minggu ke 36
Muka berseri, tidak keriput, janin dapat bergerak dan berputar banyak. janin berukuran 46 cm dan berat 2500 gram
Minggu ke 38
Kulit licin dan janin siap lahir. janin berukuran 50-55 cm dan berat 3000 gram.
Sumber Mochtar, Rustam 1998, Sinopsis Obstetri, jakarta : EGC Wiknjosastro, Hanifa 2005, Ilmu Kandungan, Jakarta : Yayasan Pustaka Sarwono Prawiroharjo